Artikel esai ini telah di-submit di acara Agrinova IPB tahun 2015

Latar Belakang dan Objektif

Industrialisasi yang terjadi pada abad ke-18 lalu telah memberikan dampak yang signifikan terutama dampaknya terhadap perubahan iklim global. Selama ±100 tahun sebelum tahun 2005, telah terjadi peningkatan 2 kali lebih besar jika dibandingkan dengan suhu udara pada tahun 1856.Peningkatan laju industrialisasi ini diikuti dengan eksploitasi bahan bakar fosil secara besar-besaran yang kemudian menimbulkan efek jangka panjang berupa penurunan umur energi fosil dan pencemaran lingkungan. Perubahan iklim global terjadi karena peningkatan emisi karbon dioksida sebagai ekses dari eksploitasi yang reaksinya di udara menimbulkan efek rumah kaca yang mengakibatkan menipisnya lapisan ozon. Kondisi ini berdampak berdampak signifikan, dimana di berbagai belahan dunia telah terjadi bencana seperti angin topan, banjir, kekeringan, badai, pencairan gletser, kenaikan permukaan air laut, kepunahan beberapa spesies makhluk hidup dan masalah-masalah sosial lainnya. Pada kondisi seperti ini, “green sustainable development”, “low carbon city” dan “green energy strategies” menjadi isu hangat di masyarakat[1].

Berbagai permasalahan yang telah dikemukakan diatas kemudian mendorong banyak pihak untuk peduli, dan mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi alternatif yang berkelanjutan. Paradigma pembangunan lama yang bersifat eksploitatif dan inefesiensi energi mulai dialihkan menuju konsep pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Pembangunan berkelanjutan diharapkan dapat menjamin generasi mendatang mendapat kesempatan yang sama atau bahkan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan hidupnya[2]. Hubungan antara keberlanjutan sosial, lingkungan, ekonomi serta energi dan sumber daya membentuk suatu kesatuan yang dinamis dan merupakan prinsip dasar dari pembangunan berkelanjutan. Sebagai contoh, biaya produksi suatu teknologi dan ketersediaan sumber energi yang stabil akan berpengaruh terhadap keuntungan-keuntungan sosial, kedamaian dunia, lingkungan dan udara yang bersih dan sebagainya. Peran manusia dalam pembangunan berkelanjutan ini adalah sebagai penjaga keseimbangan hubungan tersebut agar sesuai dengan porsinya[3].

1

Gambar 1 Faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan berkelanjutan dan interdependensinya

Sumber : Midili et al, 2006

Dalam suatu model teoritis pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat dari masyarakat yang miskin menjadi masyarakat yang memiliki karakter kuat harus melalui 3 proses dari komunitas biasa, menjadi komunitas yang berkembang dan pada akhirnya menjadi komunitas yang diberdayakan. Peningkatan level pembangunan ini disertai dengan peningkatan pengetahuan tentang teknologi[4].

2

Gambar 2 Kerangka Teoritis Pembangunan Berkelanjutan

Sumber : Pamatang et al, 2013

Keberlanjutan sosial yang mempengaruhi pembangunan berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Pendidikan merupakan pintu masuk segala informasi yang mampu menjadi media pengembangan peningkatan pengetahuan individu.Di dalam konferensi Stockholm (1972) menyebutkan bahwa pendidikan secara formal diakui di tingkat internasional memainkan peranan penting dalam membina calon pemimpin agar mampu melakukan konservasi dan proteksi lingkungan. Selama kurang lebih dua dekade ini, banyak pendidikan tinggi yang sudah memasukkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam sistem akademiknya. Penelitian yang dilakukan oleh Lozano et al (2015) pada 70 perguruan tinggi di seluruh dunia menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam mencetak pemimpin yang memiliki pengetahuan tentang pembangunan berkelanjutan dan menerapkannya di lingkungan mereka masing-masing. Penanaman ideologi dan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan sangat efektif diterapkan di lingkungan akademis[5].

Green sustainable development”, “low carbon city” dan “green energy strategies” menjadi isu hangat di masyarakat

Konsep Green School

Untuk mempermudah implementasi konsep pembangunan berkelanjutan diperlukan suatu media / tempat yang dapat menginisiasi terbentuknya ide-ide dan inisiatif baru dengan kondisi lingkungan yang mendukung. Green School Project menjawab pertanyaan tersebut karena mendukung siswanya untuk tertarik terhadap isu-isu pembangunan sehingga secara tidak langsung mereka terlibat dalam kampanye pembangunan berkelanjutan.Berdasarkan pengertian dari Center for Green Schools, green school adalah fasilitas atau gedung sekolah yang dapat menciptakan suasana yang sehat dan kondusif untuk belajar serta hemat energi, sumber daya dan uang. Menurut pemerintah Irlandia, green school atau eco-school merupakan program lingkungan pendidikan internasional, sistem manajemen lingkungan dan skema penghargaan yang mendukung seluruh aksi sekolah terhadap lingkungan. Seperti yang tercantum pada gambar 3, syarat dasar dibentuknya green school adalah efisiensi baik sumber daya, energi maupun reduksi polutan dalam hal ini karbon diokosida. Makna green school lebih dari sekedar green building, dimana kunci utama dalam penerapan green school adalah untuk membuat lingkungan yang kondusif untuk belajar[1].

3

Gambar 3 Kerangka Konsep Green School Campus dengan penyesuaian

Sumber : Zhao et al, 2015

Konsep green school project berasal dari proposal yang diajukan oleh The Foundation of European Environmental Education pada tahun 1994 dengan tujuan untuk memberikan terobosan konsep pembangunan berkelanjutan di lingkungan pendidikan Eropa secara bertahap terhadap sektor pendidikan dan secara komprehensif membuat suatu sistem pendidikan yang berwawasan lingkungan. Pada tahun 2007, gerakan ini juga diterapkan oleh United States Green Building Council (USGBC) dalam bentuk kampanye Green School yang memberikan pendanaan di segala tingkat pendidikan di Amerika.Saat ini, Amerika merupakan negara yang paling serius mengerjakan kampanye Green School. Terhitung dari 133.000 sekolah, 4300 universitas di Amerika, 80% diantaranya berjanji akan membangun konsep green school tahun ini dan 94% diantaranya akan  mengerjakannya secara bertahap 5 tahun mendatang. Selain di Eropa dan Amerika, di Asia dalam hal ini China dan Jepang juga telah menerapkan proyek ini untuk mendukung pendidikan di negara mereka[1].

Untuk membangun suatu green school, dibutuhkan konsep yang sistematis dan terintegrasi dengan baik. Karakteristik umum dalam membuat desain green school adalah sebagai berikut[1]:

  • Konservasi energi dan sumber daya alam
  • Meningkatkan kualitas udara dalam ruangan
  • Menghilangkan bahan-bahan berbahaya dari lokasi dimana anak-anak belajar dan bermain
  • Menggunakan strategi pencahayaan yang baik
  • Mengurangi beban pengolahan air bersih dan air buangan
  • Mendorong penggunaan kembali (konsep 3R : Reduce, Reuse, Recycling) dan meningkatkan kebermanfaatan manajemen limbah
  • Mempromosikan perlindungan habitat
  • Konservasi air minum dan melakukan pemanfaatan limpasan air hujan

Green school atau eco-school merupakan program lingkungan pendidikan internasional, sistem manajemen lingkungan dan skema penghargaan yang mendukung seluruh aksi sekolah terhadap lingkungan.

Mahasiswa dan Peranannya dalam Implementasi Green School di Indonesia

Di Indonesia, konsep Green school sudah diterapkan oleh sepasang pengusaha dari Kanada, John dan Cynthia Hardy. Seluruh bagian bangunannya dibuat dari bambu yang merupakan material yang berkelanjutan karena menyerap sedikit kelembaban dan memiliki kekuatan dan daya tahan yang besar. Di Jakarta sendiri, sedang dibangun suatu green school di dalam suatu wilayah yang padat. Konsep green school ini sangat mungkin diterapkan di Indonesia, meskipun terdapat berbagai tantangan, diantaranya adalah prinsip-prinsip kedaerahan, keterbukaan, dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap konsep pembangunan berkelanjutan.

Dalam perannya sebagai agent of change, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk merubah paradigma masyarakat Indonesia yang masih tertutup dengan adanya suatu perubahan. Green school sangat mungkin untuk diterapkan di dalam suatu komunitas-komunitas kecil dimana mahasiswa berperan sebagai penggeraknya. Dimulai dari pendidikan karakter di kampus-kampus, kemudian diterapkan di lingkungan masyarakat sebagai bagian dari kampanye lingkungan untuk mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Pemahaman yang memadai mengenai green school, juga didukung dengan pengetahuan yang cukup  menjadi bekal mahasiswa untuk dapat memberikan edukasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia 15 tahun mendatang juga memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sosial-ekonomi di Indonesia. Mengulang prinsip pembangunan berkelanjutan bahwa keberlanjutan sosial-ekonomi merupakan faktor yang mampu mempengaruhi pembangunan berkelanjutan, maka kondisi tersebut perlu mendapatperhatian khusus. Edukasi dan pemahaman terhadap isu green development perlu ditanamkan kepada masyarakat khususnya generasi muda Indonesia agar keberlangsungan proses pemberdayaan masyarakat dapat terjaga. Konsep dan prinsip green school project yang diterapkan melalui kegiatan-kegiatan kemahasiswaan atau pelayanan komunitas lainnya mungkin bukan satu-satunya cara untuk menanamkan pengetahuan dan informasi pembangunan berkelanjutan tetapi bisa menjadi pintu masuk yang efektif dalam mengantarkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik.

Kesimpulan

Menghadapi permasalahan lingkungan dan energi yang diakibatkan oleh proses industrialisasi, berbagai macam usaha telah dilakukan oleh manusia yaitu berupa kebijakan, sistem, hukum, standar, dan proyek-proyek lainnya. Green school menawarkan pemecahan masalah tersebut dengan berperan sebagai penyembuh dan pintu masuk utama dalam memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat. Mahasiswa dapat membantu mensukseskan gerakan ini dengan menerapkan prinsip-prinsipnya ke dalam lingkungan terdekat mereka sehingga terbentuk suatu lingkungan masyarakat yang berkelanjutan (social sustainability)

Referensi

[1]      D. Zhao, B. He, and F. Meng, “Geoforum The green school project : A means of speeding up sustainable development ?,” Geoforum, vol. 65, pp. 310–313, 2015.

[2]      T. H. Karyono, “Teknologi hijau dan pembangunan berkelanjutan,” in Green Technology towards Sustainable Development, Universitas Al Zaitun, Indramayu, 2009, pp. 1–12.

[3]      A. Midilli, I. Dincer, and M. Ay, “Green energy strategies for sustainable development,” Energy Policy, vol. 34, pp. 3623–3633, 2006.

[4]      C. Pamatang, M. Sianipar, and G. Yudoko, “The 3 rd International Conference on Sustainable Future for Human Security Community empowerment through appropriate technology : sustaining the sustainable development,” Procedia Environ. Sci., vol. 17, pp. 1007–1016, 2013.

[5]      R. Lozano, K. Ceulemans, M. Alonso-almeida, D. Huisingh, F. J. Lozano, T. Waas, W. Lambrechts, R. Lukman, and J. Hug, “A review of commitment and implementation of sustainable development in higher education : results from a worldwide survey,” J. Clean. Prod., vol. 108, 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s