Artikel ini sebelumnya disubmit di dalam lomba Call for Essay Silatnas Forsi Himmpas di UNS, 5 November 2016

Budaya dan Globalisasi

Budaya merupakan suatu sistem pengetahuan dan norma yang digunakan untuk berperilaku, berasa, dan percaya. Kebudayaan menyebabkan adanya suatu pola-pola perilaku di dalam masyarakat yang berbeda-beda di suatu daerah dengan daerah yang lain. Manifestasi nilai-nilai budaya tumbuh, berkembang dan terintegrasi menjadi suatu identitas / ciri khas tertentu. Budaya berkembang secara terus menerus melewati dimensi waktu menyesuaikan dengan pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang terdapat di dalamnya sebagai subjek sekaligus objek kebudayaan. Budaya menjadi batasan apakah suatu perilaku dapat diterima atau tidak (normatif).

Nilai budaya berkembang melalui suatu proses pendidikan. Pendidikan mampu mempengaruhi pemahaman masyarakat dan mampu mendorong terjadinya perubahan kebudayaan yang signifikan dalam tata hubungan suatu kelompok masyarakat. Pembentukan perilaku atau jati diri dalam konteks individu, tidak terlepas dari dua aspek, yaitu pendidikan dan kebudayaan (baik sebagai variabel antara maupun bebas).
Indonesia memiliki diversifikasi kebudayaan yang sangat besar, hal ini terjadi karena kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan. Diversifikasi ini membuat Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan mampu menarik minat wisatawan dari mancanegara.

Proses integrasi internasional yang terjadi di dunia telah memunculkan era baru yang disebut globalisasi. Globalisasi mampu merubah nilai-nilai budaya dan identitas yang dimiliki suatu kelompok masyarakat atau Negara. Tingginya arus globalisasi dan perkembangan teknologi akhirnya memberikan ancaman dan tantangan bagi Indonesia.

Globalisasi secara tidak langsung telah membuat masyarakat mengeliminasi batas-batas sosial yang selama ini muncul diantara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Proses lintas budaya dan silang budaya mampu membuat asimilasi dan akulturasi yang dapat menciptakan kemajuan kebudayaan baru yang positif dan lebih bermakna. Proses tersebut banyak dirasakan di kota-kota besar dimana informasi sangat mudah didapatkan dan pendidikan mampu dijangkau dengan baik. Sebaliknya, masyarakat di desa dan daerah-daerah 3T masih terkendala dengan instabilitas informasi dan kesenjangan sosial yang dapat dirasakan secara nyata.

Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan

Tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) terdiri dari 17 target dan tujuan pembangunan global yang direncanakan selama 15 tahun (2015 – 2030). Masing-masing Negara anggota PBB menyatakan komitmennya untuk melaksanakan program-program yang mendukung target dan tujuan tersebut. Di Indonesia, tujuan pembangunan yang berkelanjutan dilakukan dengan melibatkan warga dan publik dalam setiap poin sub target yang telah ditetapkan. Tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut meliputi : bebas kemiskinan dan kelaparan, tingkat kesehatan yang baik; pendidikan yang berkualitas; persamaan gender; air bersih dan sanitasi, serta energi yang bersih; pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, inovasi dan industri; berkurangnya ketimpangan sosial; kota dan komunitas yang berkelanjutan; konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab; aksi perubahan iklim; sumber daya air dan ekosistem darat yang terpelihara; perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang efektif serta penguatan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Perkotaan sebagai pusat aktivitas yang sangat dinamis selalu memiliki berbagai macam masalah lingkungan mulai dari pencemaran, kurangnya air bersih, penumpukan sampah karena manajemen yang berantakan serta penurunan kualitas lingkungan akibat berbagai kegiatan ekonomi. Pada akhirnya, penyediaan akses sanitasi dan air minum menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup dapat terjaga. Meskipun pedesaan tidak memiliki masalah sekompleks perkotaan tetapi kesenjangan sosial dan ekonomi sangat terasa ketika dibandinngkan. Oleh karena itu, rencana untuk mengupayakan pelestarian lingkungan perlu dilakukan untuk mewujudkan salah satu target pembangunan berkelanjutan. Hal itulah yang kemudian mendasari pentingnya pembudayaan perilaku hijau di suatu wilayah khususnya di lingkungan masyarakat perkotaan.

Urgensi Membentuk Perilaku Hijau

Perilaku hijau merupakan suatu istilah yang menggambarkan perilaku seseorang yang secara sadar melakukan kegiatan – kegiatan ramah lingkungan (eco-friendly). Sebagai contoh, adanya perilaku memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya, mengkampanyekan hemat energi dan lain sebagainya. Perilaku hijau pada dasarnya merupakan identitas, wawasan dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat yang telah memiliki paradigma pembangunan yang berkelanjutan. Di dalam perspektif hubungan internasional, perilaku hijau menjadi tolok ukur penilaian / pemeringkatan industri (PROPER, semakin peduli lingkungan, maka suatu industri mendapatkan kepercayaan yang semakin besar dari konsumennya) karena berkaitan dengan isu global warming dan perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan. SDGs merupakan contoh komitmen internasional untuk membangun perilaku hijau.

Hal yang paling sederhana untuk menggambarkan perilaku hijau adalah bagaimana kepedulian kita terhadap masalah sampah. Sampah menjadi perhatian karena jika tidak diatasi dapat mengakibatkan masalah-masalah turunan seperti banjir dan penyakit yang berkaitan dengan hygiene. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menangani sampah, seperti Gerakan Disiplin Nasional pada era Soeharto (1995) dan dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (2016) dengan mengkampanyekan Indonesia Bebas Sampah 2020. Pada kenyataannya, kepedulian masyarakat masih cukup rendah. Perilaku memilah sampah masih sulit untuk dilakukan.

Pemandangan yang kontras terlihat jika kita berkunjung ke Negara maju, terutama yang sudah menaruh perhatian besar terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Jepang misalnya, aturan sangat dihargai sehingga masyarakat benar-benar tidak akan membuang sampah sembarangan meskipun tidak ada yang mengawasi. Walaupun tong sampah sulit dijumpai disana, tetapi itu tidak membuat masyarakat lantas membuang sampah di sembarang tempat. Masyarakat berkomitmen untuk melaksanakan aturan yang telah dibuat dan disepakati. Contoh lain di Eropa, kesadaran untuk menjaga kebersihan itu sudah dibentuk dari kecil. Kedisiplinan merupakan perilaku yang tidak terlepaskan dari keseharian masyarakat. Jika terdapat pelanggaran, sanksi sosial akan diterapkan pada pelakunya. Masyarakat sudah berpikir ‘smart’ dimana identitas kota / kelompok sudah menjadi bagian dari dirinya. Contoh lainnya adalah di India, dengan jumlah penduduk dan kondisi Negara yang mirip dengan Indonesia, saat ini India mulai berbenah untuk memperbaiki kualitas hidup rakyatnya. Perilaku hijau di India mulai banyak diperkenalkan dan diterapkan. Meskipun begitu, perlu diambil suatu benang merah dan pelajaran bagaimana menerapkan perilaku hijau di Indonesia dengan karakter masyarakat yang cukup beragam.

Strategi Pembentukan Perilaku

Merubah budaya tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu konsistensi dan komitmen serta komponen-komponen lain seperti sosialisasi untuk mengenalkan dan mampu memberikan kesadaran dan pengetahuan kepada masyarakat. Mencetak generasi muda yang peduli lingkungan adalah tugas semua pihak. Pendidikan merupakan suplemen utama yang harus diberikan kepada generasi muda agar mampu berperilaku hijau. Tuntutan globalisasi sebenarnya telah memaksa masyarakat untuk memahami perilaku hijau, karena untuk bersaing pada ekonomi global, maka seseorang / suatu kelompok harus berpikir tentang sustainability dan environment.

Indonesia sebenarnya telah memiliki budaya yang mendukung sustainable development goals. Ramah tamah, gotong royong, saling menghormati, musyawarah, toleransi merupakan ciri khas bangsa yang mampu mempersatukan suku-suku di berbagai kepulauan di Indonesia. Tradisi dan budaya yang telah mengakar ini masih dapat dilihat sampai sekarang meskipun berpotensi untuk hilang suatu saat nanti. Segala macam perbedaan justru memperkaya budaya dan mampu dipersatukan dalam satu bahasa, Bahasa Indonesia. Hal ini tergambar dalam Pancasila sebagai dasar Negara. Nilai-nilai luhur bangsa dan Negara tersebut sebenarnya sudah tercantum di dalam semangat Pancasila.

Jika dikaitkan dengan tren globalisasi yang masuk ke Negara Indonesia, generasi muda sebenarnya memiliki peluang besar untuk memanfaatkan tren tersebut. Kemudahan menyampaikan pendapat melalui alat telekomunikasi dan perkembangan media sosial yang sangat pesat sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk melestarikan budaya Indonesia dan memperkenalkannya kepada dunia. Perilaku hijau sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan seharusnya dapat dengan mudah diterapkan, mengingat akses informasi yang sangat cepat dewasa ini. Kekayaan sumber daya alam dan kondisi lingkungan Indonesia sebenarnya cukup mendukung untuk mengurangi dampak dari perubahan iklim (hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia). Tetapi sepertinya kekayaan ini justru membuat kita lupa dan berperilaku primitif yang dibuktikan dengan masih banyaknya pencemaran lingkungan, tidak terkendalinya penebangan liar dan masih banyak perusakan lingkungan lainnya.

Di samping banyaknya peluang yang didapatkan Bangsa Indonesia akibat adanya globalisasi, terdapat pula beberapa tantangan yang harus dihadapi bangsa ini terutama bagaimana mengatasi sifat-sifat negatif mayoritas orang Indonesia : hipokrit / munafik, segan dan enggan bertanggung jawab, feodal, kedaerahan (percaya tahayul), artistic, lemah dan tak dapat mempertahankan keyakinannya, boros, tidak suka bekerja keras kecuali dipaksa, suka menggerutu, cemburu dan dengki, gila hormat dan rakus serta suka meniru / plagiasi. Selain faktor internal tersebut, penanaman perilaku menjadi semakin sulit untuk dilakukan dengan tidak adanya dukungan seperti finansial, partisipasi, keteladanan dan fasilitas dari berbagai pihak-pihak yang terkait. Tantangan harus mampu dihadapi, terutama oleh generasi muda yang menginginkan terbentuknya budaya cinta lingkungan di masyarakat.

Untuk meningkatkan efektifitas penanaman kesadaran dan pengetahuan tentang lingkungan ke masyarakat, terdapat beberapa strategi yang dapat diusulkan. Pertama, pendidikan perilaku tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah pendidikan saja, tetapi dapat berupa kampanye baik verbal maupun non verbal, melalui sosial media maupun media cetak seperti poster, banner dan billboard karena model kampanye tersebut terbukti mampu mempengaruhi alam bawah sadar seseorang apabila dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Kedua, perlu adanya kolaborasi yang kuat antara stakeholder (pemerintah, pebisnis, NGO, kelompok masyarakat dan akademisi) untuk membangun komitmen kelompok dan pemimpin di masing-masing daerah. Agar suatu program mampu berjalan secara berkelanjutan, maka perlu adanya partisipasi aktif dari masyarakat untuk melaksanakannya. Ketiga, monitoring dan evaluasi perlu dilakukan hingga kesadaran / pengetahuan tersebut kemudian berubah menjadi suatu perilaku atau budaya. Keempat, fasilitas ditambahkan ke dalam sistem masyarakat agar motivasi masyarakat semakin bertambah. Komunikasi yang positif dan keberlanjutan akan membuat masyarakat merasa memiliki program tersebut sehingga timbullah perilaku yang diharapkan. Pembangunan fasilitas merupakan tanggung jawab pemerintah, tetapi pemeliharaannya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat. Yang terakhir, insentif perlu diberikan kepada individu atau kelompok yang mampu membangun perilaku hijau di dalam dirinya. Hal ini akan memotivasi pihak lain untuk melakukan hal yang sama.

Kelima strategi tersebut harus dilakukan berdasarkan keteladanan dari negara – negara maju dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Daftar Pustaka

http://anakmilitan.blogspot.co.id/p/orang-indonesia-memiliki-12-sifat_13.html diakses 24/9/2016
http://ariplie.blogspot.co.id/2015/05/sistem-pendidikan-nasional-dan-peran.html diakses 23/9/2016
http://kuliahmanajemenundip.blogspot.co.id/2016/05/manajemen-lintas-budaya-konsep-budaya.html diakses 23/9/2016
http://nicomaris.blogspot.co.id/2016/05/belajar-dari-groningen-menjaga-kota.html diakses 24/9/2016
http://www.kompasiana.com/mahansa/budaya-buang-sampah-di-jepang_55d52029a2afbd3816b539b3 diakses 23/9/2016
Ramadan Bimastyaji Surya, Firdha Cahya Alam, Benno Rahardyan. 2016. The Influence of Environmental Campaign on Public Awareness to Maintaining the Cleanliness and Waste Reduction Program: a Case Study of Bandung City. Scientific Journal of PPI-UKM, Vol. 3 (2016) No. 1; ISSN No. 2356 – 2536.
R. Curnow, H. Saunderson, I. Donoghue, and K. Spehr, “Building Collaborative Approaches to Change Public Waste Behaviour,” in WasteMINZ Annual Conference Focus on the Future, 2013, pp. 1–10.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s