Tulisan ini merupakan bagian dari tugas resume dalam mata kuliah Aspek Non Teknis dalam Pengelolaan Limbah. Judul diatas merupakan judul penelitian dari thesis yang dilakukan oleh Wahyu Marlianti dengan dosen pembimbing Dr. Benno Rahardyan.

Penelitian ini dilakukan melalui proses merumuskan dan identifikasi masalah, penentuan variabel berdasarkan komponen-komponen kapabilitas pengelola, penyusunan kuesioner, pre test kuesioner, pengumpulan data kuesioner, analisis data dan pembahasan. Ruang lingkup penelitiannya berada pada masalah dan hambatan, penilaian persepsi masyarakat, analisis ekonomi, evaluasi diri, aplikasi teknologi, dan optimisme implementasi TPA serta pemahaman tentang persampahan yang kemudian membentuk komitmen, kapabilitas dan peningkatan pemahaman masyarakat. Untuk dapat mengevaluasi semua komponen dalam ruang lingkup tersebut, maka dilakukan penelitian kuantitatif menggunakan metode survei dimana masing-masing komponen dibuat struktur kuesionernya. Responden didapatkan dari pelaku pengelolaan persampahan dalam suatu pelatihan yang bekerjasama dengan Kementrian Pekerjaan Umum sejumlah 306 responden. Setelah kuesioner disusun, dilakukan pre test untuk menguji validitas menggunakan koefisien Rank Spearman dan reliabilitas kuesioner menggunakan koefisien Cronbach Alpha.

Tahap awal analisis kapabilitas adalah menilai persepsi pengelola mengenai hambatan dan permasalahan yang ada dalam tahapan penanganan sampah dari hulu ke hilir masing-masing komponen aspek teknis (pengumpulan, pengangkutan, daur ulang, pengomposan, insinerasi dan TPA) dan aspek kelembagaan. Tingkat hambatan berdasarkan aspek teknis (dari kecil ke besar) tersebut adalah kelembagaan, peraturan, teknis operasional, peran serta masyarakat dan terakhir pendanaan. Pada aspek kelembagaan, komponen dikelompokkan menjadi 2 yaitu aspek teknis dan non teknis. Pengelompokkan tidak dapat dilihat dengan jelas maka harus dilakukan analisis lanjutan dengan analisis faktor.

Pemulung mencari sampah plastik di TPA Sampah Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (29/4)
Ilustrasi TPA Bantar Gebang

Evaluasi pengelola dari segi kelembagaan dan aplikasi teknologi persampahan menunjukkan bahwa 70% konsep TPA berkelanjutan ada dalam visi pengelola, selain itu perlu adanya perencanaan yang baik dalam aplikasi teknologi persampahan. Pendanaan dan sumber daya manusia muncul sebagai aspek dengan kapasitas yang rendah disbanding aspek yang lain. Pelatihan, pengawasan dan pemantauan juga dinilai perlu dan penting untuk dilakukan. Pendanaan menjadi masalah dalam upaya tinda lanjut hasil evaluasi. Teknologi yang diaplikasikan dalam desain dan penutupan TPA jika dilihat berdasarkan aspek operasional dan manajemen memperlihatkan bahwa masalah terkonsentrasi pada pendanaan. Jika dilihat dari segi desain, masalah terkonsentrasi pada pengelolaan gas sedangkan untuk penutupan TPA masalah terkonsentrasi pada pengendalian pencemaran. Jika dipetakan, masalah terbesar ada di area landfill, fasilitas pembakar gas, mechanical treatment facility dan biotreatment facility.

Peniliaian ketidakselarasan persepsi antara pengelola dan masyarakat dilakukan dengan membandingkan hasil pengolahan data pengelola dengan data masyarakat. Ketidakselarasan persepsi yang cukup signifikan terjadi pada variabel tentang image, ketidakpercayaan dan keyakinan jika masyarakat diberikan informasi mengenai persempahan dimana rata-rata masyarakat tidak setuju adanya TPA disekitar mereka. Untuk menurunkan sikap penolakan masyarakat dalam implementasi TPA, dapat dilakukan pemberian materi dan informasi kepada masyarakat. Fasilitas keseharan dan uang kompensasi adalah yang diharapkan masyarakat dengan keberadaan TPA di sekitar tempat tinggal mereka. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara persepsi pengelola dan masyarakat mengenai fasilitas-fasilitas yang menjadi motivasi terhadap keberadaan TPA sedangkan pada persepsi mengenai keberadaan faslitas pemrosesan sampah dan fasilitas kompensasi itu sendiri rata-rata pengelola lebih positif dari persepsi masyarakat sebenarnya. Persepsi masyarakat pada isu pencemaran memiliki nilai yang sangat bertolak belakang dimana masyarakat khawatir terhadap gangguan yang mungkin akan timbul. Pengelola dapat mengintrepretasikan persepsi nyata masyarakat pada keinginan memiliki dan mengunjungi lahan di sekitar scenario TPA. Dari segi lahan di sekitar TPA, masyarakat menilai hampir 2 kali dari harga lahan yang dinilai pengelola.

Dilihat dari sisi optimisme, Rata-rata pengelola cukup optimis dalam upaya realisasi implementasi teknologi persampahan dan upaya mengatasi masalah dalam aspek pengelolaan sampah dan manajemen. Tingkat optimisme responden menurun seiring dengan meningkatnya kualitas kondisi TPA.

Setelah dilakukan analisis deskriptif pada beberapa komponen hambatan dalam pengelolaan TPA yang berkelanjutan, kemudian isu-isu potensial dideterminasi menjadi 4 bagian yaitu kesenjangan persepsi, hambatan, kelembagaan dan optimisme. Dari 36 variabel aspek pengelolaan sampah kemudian difaktorkan menjadi 2 faktor dan 6 variabel kelembagaan menjadi 2 faktor (perencanaan dan implementasi) untuk dapat dianalisis menggunakan analisis diskriminan. Dari hasil analisis diskriminan, diperoleh bahwa faktor hambatan yang mempengaruhi Β pengawasan, evaluasi kegiatan, dan tindak lanjut hasil evaluasi dengan ketepatan prediksi model 51%. Model log linier terbaik dari hubungan antara hambatan, optimism, dan kesenjangan, memperlihatkan bahwa aspek pengelolaan sampah mempengaruhi tingkat optimism 10,75 kali. Dari hasil regresi logistic faktor hambatan dalam aspek pengelolaan sampah yang mempengaruhi tingkat optimism adalah kelembagaan (pengumpulan), peran serta masyarakat (pengangkutan), peraturan (daur ulang), peraturan – teknik operasional (insinerasi), dan peran serta masyarakat – kelembagaan (TPA). Untuk asek kelembagaan, faktor yang berpengaruh adalah evaluasi kegiatan dan tindak lanjut hasil evaluasi.

Setelah diskusi, dilakukan penilaiain ulang terhadap faktor hambatan, optimisme dan pemahaman terhadap implementasi TPA. Hambatan lebih tinggi pada aspek pengelolaan sampah jika dibandingkan kelembagaan. Penilaian hambatan meningkat setelah adanya diskusi walaupun tidak signifikan. Peingkatan pemahaman yang dilakukan melalui diskusi dan sosialisasi dapat meningkatkan optimism dan kesadaran pengelola terhadap implementasi TPA. Selain itu juga dapat meningkatkan pemahaman terkait masalah kurangnya kualitas sumber daya manusia terkait pengelolaan sampah. Untuk mengatasi penolakan masyarakat, diskusi dapat mengatasi masalah jika dibandingkan dengan kompensasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s