Academic Trip to Ho Chi Minh City

You Only Live Once #Yolo

“Jangan sia-siakan kesempatan yang datang kepadamu, karena kesempatan yang sama tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.” Quotes itu lah yang membuat kami memberanikan diri mengikuti seminar / simposium internasional di Vietnam. Konferensi yang bertajuk The 5th International Symposium on Environmental Analytical Chemistry (ISEAC – 5) ini memberikan banyak pengalaman bagi kami, para “pejuang akademis” dari Indonesia.

Simposium yang diadakan pada tanggal 16 – 20 Mei 2017 ini memberi kesan yang mendalam bagi kami, karena :

  1. Tiga diantara kami belum pernah menjadi presenter dalam seminar skala internasional
  2. Satu diantaranya belum pernah keluar negeri
  3. Semuanya belum pernah ke vietnam sebelumnya
  4. Bahasa, budaya, iklim yang berbeda dengan Indonesia
  5. Seminar internasional yang diikuti terlalu luar biasa baik dari speaker, panitia maupun para presenter dalam parallel session
  6. Hanya 5 orang peserta yang berasal dari Indonesia, 4 dari ITB dan 1 dari UB

Banyak pengalaman yang kami dapatkan, terutama bagaimana presentasi di depan expert yang baik dan menarik. Tentu, kami semua gugup menjelang presentasi, tapi nyatanya semua bisa terlewati dengan baik, alhamdulillah.

Seperti yang telah saya posting sebelumnya disini tentang manfaat mengikuti seminar akademik bagi mahasiswa, banyak manfaat yang kami dapatkan, dan mungkin yang lupa tertulis di post tersebut adalah motivasi. Yap, motivasi untuk terus berkembang, menjalin hubungan, dan menerima kritik, saran dan masukan dari akademisi lainnya yang memiliki kesamaan minat (research interest). Dalam seminar tersebut, saya bertemu dengan salah seorang peneliti bioengineering (assist. Prof) dari Unesco-IHE, Eldon R. Rene, sekaligus teman dari bu Hermin, dosen prodi Kimia – Universitas Brawijaya, yang membuat saya berkeinginan untuk melanjutkan studi disana. Alasannya simpel, karena dia mengapresiasi presentasi saya dan kebetulan bidang kerja beliau sesuai dengan bidang yang saya minati saya yaitu tentangΒ microbiologyΒ engineeringΒ in water, air and soil. Semoga bisa ada kesempatan bertemu beliau kembali. πŸ™‚

Anw, ada pesan yang masih terngiang-ngiang dari salah satu teman dekat saya, Alam, bahwa acara seminar akademis semacam ini: “merupakan gambaran hingar-bingar dunia (konferensi) ini”. Hal itu memang benar adanya. Konferensi yang saya ikuti ini diadakan di hotel bintang 5, dimana saya feel amazed dengan semua fasilitasnya, dan dihadiri oleh para pakar dan bintang riset dari seluruh penjuru dunia. Mungkin ini sisi lain dunia akademik, dunia dosen dan peneliti yang suatu saat pasti akan saya masuki.

Hal yang umum bagi peserta seminar adalah “jalan-jalan dan liburan” di kota tempat acara berlangsung. Dan itupun kami lakukan setelah presentasi, soalnya, mau kapan lagi? #yolo. Kami banyak belajar dari kota ini (Ho chi minh city). Kotanya mungkin seluas Bandung, suasananya pun hampir sama seperti kota-kota lain di Indonesia. Tetapi ada beberapa hal yang unik disini :

  1. Kami tidak perlu melakukan check in yang berlebihan seperti menulis form atau pemeriksaan yang ketat sewaktu memasuki vietnam
  2. Karena panas mungkin ya, hampir semua pengendara motornya pakai helm batok. Padahal dijual juga helm full face. Hehe
  3. Ho chi minh city memiliki penduduk yang sangat beragam, mungkin karena kita menginap di kampung backpacker ya, jadi banyak sekali turis asing yang mengunjungi kota ini, mungkin suasana bisa dibayangkan seperti Kuta, Bali
  4. Tidak sedikit yang menawarkan “pijat” di kanan kiri dan depan hotel kami. Dan jangan kaget kalau tiba-tiba ditawari “vietnamese lady“. Sempat salah seorang diantara kami ditawari “lady” seharga 200.000 VND
  5. Pengguna sepeda motornya luar biasa banyaaaaak, dan kalau ga kuat mental buat nyebrang, mending jangan nyebrang di perempatan hehe. Para pengendara sepeda motor cukup agresif karena sampai naik ke trotoar dan ngebut ketika ada orang nyebrang, jadi harus sangat berhati-hati. Selain itu, suara klakson sangat sering terdengar baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 πŸ˜‚
  6. Kalau belanja di Benh Tanh market, harus ekstra hati-hati karena kalau mau beli sesuatu, dan kita udah nawar, penjual akan mengejar kita sampai kita beli. Harus pintar-pintar mengamati situasi juga sih hehe
  7. Keramahan orang vietnam memang berbeda dengan orang indonesia. Mungkinkah itu yang dimaksud dengan senyum itu mahal? Hehe
  8. Bis disini cukup bagus fasilitasnya, meskipun seperti kelas ekonomi di Indonesia, tetapi ada AC dan tanpa pengamen atau penjual keliling selama perjalanan
  9. Ternyata kita datang ketika ultah paman Ho Chi Minh (19 Mei 2017), jadi kebetulan sekali, kita bisa melihat perayaan ultah paman Ho di pusat kota Saigon
  10. Ada satu makanan terenak di dunia, dan harus coba. Pho namanya. Makanan ini seperti mie jawa tapi dengan kuah yang jauh lebih segar. Sempatkan mampir dan cari Pho ya. Pho yang halal ada di sekitar Benh Tanh, di Kampung Melayunya.
  11. Chu chi tunnels adalah tunnel yang digunakan oleh tentara vietnam bergerilya melawan Amerika. Lokasinya ditempuh 3 jam perjalanan naik bis dari kota Ho Chi Minh. Memang, lokasi ini tidak sepopuler Ha Long Bay, tetapi cukup menarik untuk dikunjungi πŸ™‚

Ho Chi Minh City / Saigon memang bukan tujuan utama pariwisata di Asia Tenggara, tetapi banyak hal sebenarnya yang bisa di eksplor seperti keragaman etnis dan budaya masyarakat setempat. Selamat berlibur di Vietnam. Semoga ulasan ini bermanfaat terutama bagi kamu yang hendak berkunjung ke negeri Paman Ho itu. πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s