Tulisan ini merupakan topik yang diperluas dari penelitian yang sedang saya kerjakan. Mungkin, belum ada juga yang mengulas secara sederhana (tentunya dalam bahasa indonesia) tentang bagaimana perilaku mikroorganisme dalam mengolah limbah. Tulisan ini diinspirasi dari dosen pembimbing sekaligus wali saya ketika menempuh studi S-1, Ibu Sri Sumiyati.

Mikroorganisme merupakan organisme yang berukuran sangat kecil (mikro) dan terdiri dari bakteri, virus, ganggang dan jamur. Cabang ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme adalah mikrobiologi. Mikroorganisme cukup menarik dan mendapatkan tempat kajian tersendiri karena memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan. Mikroorganisme dapat bersifat patogen dan dapat pula bersimbiosis mutualisme dengan manusia. Banyak sekali contoh peran mikroorganisme dalam lingkungan seperti untuk pembuatan makanan dan minuman, dekomposisi, penjaga siklus dan rantai makanan serta pemulihan lingkungan.

Mikroorganisme di lingkungan dapat pula berfungsi sebagai pengolah limbah (link). Baik bakteri, ganggang maupun jamur, memiliki peran yang saling ketergantungan untuk mengolah / meremediasi limbah sebelum maupun sesudah masuk ke lingkungan. Dalam beberapa literatur yang saya dapatkan, upaya preventif / pencegahan sering diidentikkan dengan pengolahan dimana upaya ini dilakukan sebelum terjadinya pencemaran, sedangkan remediasi / pemulihan merupakan upaya kuratif / rehabilitatif yang berarti penyembuhan dari atau setelah terjadinya pencemaran.

Pengolahan limbah menggunakan mikroorganisme diminati oleh para industriawan maupun praktisi lingkungan karena operasional dan investasi yang mudah dan murah meskipun efisiensi dan efektivitas proses tidak jarang yang meragukan. Selain itu, pengolahan limbah menggunakan mikroorganisme memiliki daya tahan yang tinggi terhadap berbagai jenis polutan dalam limbah meskipun membutuhkan waktu adaptasi yang cukup lama.

Sebagai salah satu pilihan pengolahan limbah, mikroorganisme dapat menghasilkan energi sebagai efek samping dari pengolahan limbah. Sebagai contoh, mikroorganisme dapat menjadi sumber biomassa yang cukup besar untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTBiomass, mikroorganisme anaerob mampu menghasilkan senyawa-senyawa seperti gas metana dan hidrogen yang mampu digunakan untuk membangkitkan energi listrik (biogas). Selain itu, mikroorganisme diketahui mampu menghasilkan listrik secara langsung melalui sistem microbial fuel cells. Masih banyak hal yang ingin saya sampaikan, sehingga akan saya bagi menjadi beberapa judul bab tulisan. Berikut Lanjutan tulisannya :

  1. Peran Mikroorganisme Secara Lebih Spesifik
  2. Kultivasi Mikroorganisme (DIY)
  3. Aplikasi Mikroorganisme dalam Pengolahan Limbah
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s